May 27, 2016

PERITONITIS : Komplikasi Nifas


PERITONITIS
PERITONITIS : Komplikasi Nifas
Peritonitis (radang selaput rongga perut) adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis adalah peradangan peritoneum, selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini.
Peritonitis primer disebabkan oleh penyebaran infeksi dari darah dan kelenjar getah bening ke peritoneum. Jenis jarang peritonitis - kurang dari 1% dari semua kasus peritonitis primer.
Jenis yang lebih umum dari peritonitis, yang disebut peritonitis sekunder, disebabkan infeksi ketika datang ke peritoneum dari gastrointestinal atau saluran bilier. Kedua kasus peritonitis sangat serius dan dapat mengancam kehidupan jika tidak dirawat dengan cepat.
Penyebab
Peritonitis biasanya disebabkan oleh :
1.      Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi.
Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati.
2.      Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual
3.      Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi chlamidia)
4.      Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut (asites) dan mengalami infeksi
5.      Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan.
Cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus.
6.      Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis.
Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut.
7.      Iritasi tanpa infeksi.
Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi.
Tanda dan Gejala
Tanda-tanda dan gejala peritonitis meliputi:
  • Pembengkakan dan nyeri di perut
  • Demam dan menggigil
  • Kehilangan nafsu makan
  • Haus
  • Mual dan muntah
  • Urin terbatas
Gejala
Gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya.  Biasanya penderita muntah, demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul di perutnya.  Bisa terbentuk satu atau beberapa abses.
Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus.  Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang dengan cepat.  Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum. Terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit.  Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paru-paru, ginjal atau hati dan bekuan darah yang menyebar.
Diagnosa
Foto rontgen diambil dalam posisi berbaring dan berdiri.  Gas bebas yang terdapat dalam perut dapat terlihat pada foto rontgen dan merupakan petunjuk adanya perforasi.
Kadang-kadang sebuah jarum digunakan untuk mengeluarkan cairan dari rongga perut, yang akan diperiksa di laboratorium, untuk mengidentifikasi kuman penyebab infeksi dan memeriksa kepekaannya terhadap berbagai antibiotika.  Pembedahan eksplorasi merupakan teknik diagnostik yang paling dapat dipercaya.
Pengobatan
Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat, terutama bila terdapat apendisitis, ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis.
Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan.  Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan cairan dan elektrolit bisa diberikan melalui infuse.
Kadang – kadang infeksi uterus meluas lewat system limfatik sehingga mencapai kavum abdomen dan menyebabkan peritonitis. Komplikasi ini sekarang dengan terapi segera sudah jarang dijumpai, tetapi masih dapat ditemukan pada infeksi sesudah seksio sesaria kalau terjadi nekrosisdan terbukanya luka insisi uterus. Kadangkala dalam stadium lanjut perjalanan selulitis pelvic, abses parametrium bisa mengalami rupture dan menimbulkan peritonitis generalisata yang merupakan malapetaka bagi penderitanya.
Peritonitis generalisata merupakan komplikasi yang fatal dan eksudat fibrinopurulen yang khas akan menimbulkan perlekatan usus, dan diantara gelung usus yang saling melekat itu dapat terbentuk gumpalan-gumpalan nanah. Ruang subdiafragma dan cul-de-sac kemudian dapat menjadi tempat pembentukan abses.
Secara klinis, peritonitis puerperalis menyerupai peritonitis bedah, kecuali rigiditas abdomen yang terjadi biasanya kurang begitu menonjol. Rasa nyeri bisa hebat. Distensi usus yang nyata merupakan akibata dari ilesus paralitik. Penyebab peritonitis generalisata harus dicari. Jika infeksi dimulai dalam uterus dan kemudian meluas ke dalam peritoneum, pengobatannya biasanya secara medis. Sebaliknya, peritonitis yang terjadi akibat lesi pada usus atau organ tambahannya harus diatasi dengan pembedahan.terapi antimikroba harus mencakup preparat yang paling besar kemungkinan khasiatnya terhadap infeksi Peptostreptococcus, Peptococcus, Bacteroides, Clostridium dan jenis – jenis bakteri koliformis aerob. Pemberian infuse cairan dan elektrolit merupakan terapi penting mengingat pada peritonitis generalisata akan terjadi pelepasan sejumlah besar cairan ke dalam lumen serta dinding traktus gastrointestinal, dan kadasng-kadang pula ke dalam kavum peritonei. Vomitus, diare, dan febris juga menjadi penyebab hilangnya cairan dan elektrolit. Volume cairan dan jumlah elektrolit yang diperlukan untuk menggantikan jumlah yang lepas ke dalam kavum abdomen, yang terserap dari dalam usus dan yang hilang lewat keringat (diaforesis) biasanya cukup besar, tetapi tidak begitu massif sehingga terjadi kelebihan isi sirkulasi. Karena ilesus paralitik biasanya merupakan gambaran yang menonjol, distensi traktus gastrointestinal harus dikurangi dengan pemasangan selang lambung. Pemberian makanna per oral harus dihentikan selama proses pengobatan sampai fungsi usus pulih kembali dan sudah terjadi flatus. Obat-obat untuk menstimulasi peristaltic tidak ada manfaatnya.
Eksudat purulen yang ada diantara  gelung usus atau diantara usus dan organ lainnya dapat menyebabkan terbelitnya usus. Sehingga timbul gejala ileus obstruktif. Dalam keadaan ini, sering kali diperlukan pembedahan. Pada awal perjalan penyakitnya tidak diperlukan pembedahan, meskipun abses dapat terbentuk di berbagai tempat serta memerlukan drainase, dan obtetri usus mekanis yang terjadi mungkin perlu diatasi.



Daftar Rujukan :
Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi. Edisi 2. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.

No comments:

Post a Comment